Comments 4 Comments »

Pengaruh Khalifah terhadap kehidupan politik alam Melayu sudah terasa sejak masa-masa awal berdirinya Khilafah (Daulah Islamiyah). Kejayaan umat Islam mengalahkan Kerajaan Parsi (Iran) dan menduduki sebahagian besar wilayah Rom Timur, seperti Mesir, Syria, dan Palestina, di bawah kepemimpinan Umar bin al-Khattab telah menempatkan Daulah Islamiyah sebagai kuasa besar dunia sejak abad ke-7 M. Ketika Khilafah diperintah Bani Umayyah (660-749 M), pemerintah di Nusantara –yang masih beragama Hindu sekalipun – mengakui kebesaran Khilafah.

Pengakuan terhadap kebesaran Khalifah dibuktikan dengan adanya 2 pucuk surat yang dikirim oleh Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah di zaman Bani Umayyah. Surat pertama dikirim kepada Muawiyyah, dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz. Surat pertama ditemui dalam sebuah diwan (arkib) Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Umayr yang disampaikan melalui Abu Ya’yub Ats-Tsaqofi, yang kemudian disampaikan melalui Al-Haytsam bin Adi. Al-Jahizh yang mendengar surat itu dari Al-Haytsam menceritakan pendahuluan surat itu sebagai berikut:
“Dari Raja Al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya dibuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah………”
Surat kedua didokumentasikan oleh Abd Rabbih (246-329 H/860-940 M) dalam karyanya Al-Iqd Al-Farid. Petikan surat tersebut adalah seperti berikut:
“Dari Raja di Raja…; yang adalah keturunan seribu raja … kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.”
Selain itu, Farooqi menemui sebuah arkib Utsmani yang mengandungi sebuah petisi dari Sultan Ala Al-Din Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni yang dibawa oleh Huseyn Effendi. Dalam surat ini, Aceh mengakui pemimpin Utsmani sebagai Khalifah Islam. Selain itu, surat ini juga mengandungi laporan tentang kegiatan askar Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap pedagang muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Mekah. Oleh itu, bantuan Utsmani amat diperlukan untuk menyelamatkan kaum Muslim yang terus di serang oleh Farangi (Portugis) kafir.

Sulayman Al-Qanuni wafat pada tahun 974 H/1566 M tetapi permintaan Aceh mendapat sokongan Sultan Selim II (974-982 H/1566-1574 M), dengan mengeluarkan perintah kesultanan untuk menghantar sepasukan besar tentera ke Aceh. Sekitar September 975 H/1567 M, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh dengan sejumlah pakar senjata, tentera dan meriam. Pasukan ini diperintahkan berada di Aceh selama mana yang diperlukan oleh Sultan. Namun dalam perjalanan, hanya sebahagian armada besar ini yang sampai ke Aceh kerana dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman yang berakhir tahun 979 H/1571 M. Menurut catatan sejarah, pasukan Turki yang tiba di Aceh pada tahun 1566-1577 M sebanyak 500 orang, termasuk pakar senjata, penembak, dan pakar teknikal. Dengan bantuan ini, Aceh menyerang Portugis di Melaka pada tahun 1568 M.
Kehadiran armada tentera Kurtoglu Hizir Reis disambut dengan sukacita oleh umat Islam Aceh. Mereka disambut dengan upacara besar. Kurtoglu Hizir Reis kemudian digelar sebagai gabenor (wali) Aceh yang merupakan utusan rasmi khalifah yang ditempatkan di daerah tersebut. Ini menunjukkan bahawa hubungan Nusantara dengan Khilafah Utsmaniyah bukanlah hanya hubungan persaudaraan melainkan hubungan politik kenegaraan. Adanya wali Turki di Aceh lebih mengisyaratkan bahawa Aceh merupakan sebahagian dari Khilafah Islamiyah.

Banyak institusi politik melayu di Nusantara mendapatkan gelaran sultan dari pemerintah tertentu di Timur Tengah. Pada tahun 1048H/1638 M, pemimpin Banten, Abd al-Qodir (berkuasa 1037-1063H/1626-1651) dianugerahkan gelaran sultan oleh Syarif Mekah sebagai hasil dari misi khusus yang dikirim olehnya untuk tujuan itu ke Tanah Suci. Sementara itu, kesultanan Aceh terkenal mempunyai hubungan erat dengan pemerintah Turki Ustmani dan Haramain. Begitu juga Palembang (Sumatera) dan Makasar yang turut menjalin hubungan khusus dengan penguasa Mekah. Pada ketika itu, para penguasa Mekah merupakan sebahagian dari Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki.
Dari penggunaan istilah, kesultanan Islam di Nusantara sering mengaitkan dirinya dan tidak terpisah dari kekhalifahan. Beberapa kitab Jawi klasik mencatatkan perkara ini. Hikayat Raja-raja Pasai (hal. 58, 61-62, 64), misalnya, memanggil nama rasmi kesultanan Samudra Pasai sebagai “Samudera Dar al-Islam”. Istilah Dar al-Islam juga digunakan di dalam kitab Undang-undang Pahang untuk memanggil kesultanan Pahang. Nur al-Din al-Raniri, dalam Bustan al-Salatin (misalnya, pada hlm. 31, 32, 47), menyebut kesultanan Aceh sebagai Dar al-Salam. Istilah ini juga digunakan di Pattani ketika pemimpin setempat, Paya Tu Naqpa, masuk Islam dan mengambil nama Sultan Ismail Shah Zill Allah fi-Alam yang bertakhta di negeri Pattani Dar al-Salam (Hikayat Patani, 1970:75).
Dalam ilmu politik Islam klasik, dunia ini terbahagi dua, yaitu Dar al-Islam dan Dar al-Harb. Dar al-Islam merupakan daerah yang diterapkan hukum Islam dan keamanannya ada pada tangan kaum Muslim. Sedangkan Dar al-Harb adalah lawan dari kata Dar al-Islam. Penggunaan istilah “Dar al-Islam” atau “Dar al-Salam” menunjukkan bahwa para pemerintah Melayu menerima konsep geopolitik Islam tentang pembahagian dua wilayah dunia itu.
Konsep geopolitik ini semakin jelas ketika bangsa-bangsa Eropah —dimulai oleh “bangsa Peringgi” (Portugis) yang kemudian disusul bangsa-bangsa Eropah lainnya, khususnya Belanda dan Inggris— mulai bermaharajalela di kawasan Lautan India dan Selat Melaka (Sulalat al-Salatin, 1979:244-246). Mereka melakukan penjajahan fizikal dan menyebarkan agama Kristian.

Khilafah Turki Uthmaniyah, seperti disebutkan oleh orientalis, Hurgronje (1994, halaman 1631), bersifat pro-aktif dalam memberikan perhatian kepada penderitaan kaum Muslim di Indonesia dengan cara membuka perwakilan pemerintahannya (konsulat) di Batavia pada akhir abad ke-19. Para kedutaan Turki berjanji kepada umat Islam yang ada di Batavia untuk memperjuangkan pembebasan hak-hak orang-orang Arab sederajat dengan orang-orang Eropah. Selain itu, Turki juga akan berusaha supaya seluruh kaum Muslim di Hindia Belanda bebas dari penindasan Belanda.

Lebih dari semua itu, Aceh banyak didatangi para ulama dari berbagai belahan dunia Islam lainnya. Syarif Mekah mengirim utusannya ke Aceh seorang ulama bernama Syekh Abdullah Kan’an sebagai guru dan muballigh. Sekitar tahun 1582, datang 2 orang ulama besar dari negeri Arab, yakni Syekh Abdul Khayr dan Syekh Muhammad Yamani. Di samping itu, di Aceh sendiri lahir sejumlah ulama besar, seperti Syamsuddin Al-Sumatrani dan Abdul Rauf al-Singkeli.
Abdul Rauf Singkel mendapat tawaran dari Sultan Aceh, Safiyat al-Din Shah menjadi Kadi dengan gelaran Qadi al-Malik al-Adil yang kosong kerana Nur al-Din Al-Raniri kembali ke Ranir (Gujarat). Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Abdul Rauf menerima tawaran tersebut. Beliau menjadi qadi dengan sebutan Qadi al-Malik al-Adil. Abdul Rauf telah diminta oleh Sultan untuk menulis sebuah kitab sebagai rujukan (qaanun) penerapan syariat Islam. Buku tersebut kemudian diberi judul Mir’at al-Tullab.

Berbagai kenyataan sejarah tadi menegaskan adanya pengakuan dan hubungan erat antara Alam Melayu dengan Khilafah Uthmaniyah. Bahkan, bukan hanya hubungan persaudaraan atau persahabatan tetapi adalah hubungan ‘kesatuan’ sebahagian dari Khilafah Utsmaniyah (Dar al-Islam).

PENJAGA PERJALANAN HAJI NUSANTARA

Kedudukan Khilafah Uthmaniyah sebagai khilafah Islam, terutama setelah ‘futuhat’(pembukaan) ke atas Istanbul (Konstantinopel), ibunegeri Rom Timur, pada 857 H/1453 M, telah menyebabkan nama Turki melekat di hati umat Islam Nusantara. Nama yang terkenal bagi Turki di Nusantara ialah “Sultan Rum.” Istilah “Rum” tersebar sebagai sebutan kepada Kesultanan Turki Utsmani. Mulai ketika itu, kekuatan politik dan budaya Rum (Turki Utsmani) tersebar ke berbagai wilayah Dunia Muslim, termasuk ke alam Melayu.
Kekuatan politik dan ketenteraan Khilafah Utsmaniyah mulai terasa di kawasan lautan India pada awal abad ke-16. Sebagai khalifah kaum Muslim, Turki Utsmani memiliki kedudukan sebagai ‘khadimul haramayn’ (penjaga dua tanah haram, iaitu Mekah dan Madinah). Pada kedudukan ini, para Sultan Utsmani mengambil langkah-langkah khusus untuk menjamin keamanan bagi perjalanan haji. Seluruh laluan haji di wilayah kekuasaan Utsmani ditempatkan di bawah kawalannya. Rombongan haji dapat menuju Mekah tanpa halangan atau rasa takut menghadapi gangguan Portugis. Pada 954 H/1538 M, Sultan Sulayman I (berkuasa 928 H/1520-1566 M) mengirimkan armada yang kuat di bawah Gabenor Mesir, Khadim Sulayman Pasya, untuk membebaskan semua pelabuhan yang dikuasai Portugis untuk mengamankan perjalanan haji ke Jeddah.
Khilafah Uthmaniyah juga mengamankan laluan jamaah haji dari wilayah sebelah Barat Sumatera dengan menempatkan angkatan lautnya di Samudera Hindia. Kehadiran angkatan laut Utsmani di Lautan Hindia pada 904 H/1498 M tidak hanya mengamankan perjalanan haji bagi umat Islam Nusantara, tetapi juga mengakibatkan semakin besarnya penglibatan Turki dalam perdagangan di kawasan ini. Ini memberi sumbangan penting bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi sebagai kesan sampingan perjalanan ibadah haji. Pada saat yang sama Portugis juga meningkatkan kehadiran armadanya di Lautan India, tapi angkatan laut Utsmani mampu menegakkan kekuatannya di kawasan Teluk Parsi, Laut Merah, dan Lautan India sepanjang abad ke-16.

Berkaitan dengan mengamankan laluan haji, Selman Reis (936H/1528M), laksamana Khilafah Uthmaniyah di Laut Merah, terus memantau pergerakan Portugis di Lautan Hindia, dan melaporkannya ke pusat pemerintahan di Istanbul. Salah satu bunyi laporan yang dikutip Obazan ialah seperti berikut:
“(Portugis) juga menguasai pelabuhan (Pasai) di pulau besar yang disebut Syamatirah (Sumatera)… Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir di sana (Pasai). Dengan 200 orang kafir, mereka juga menguasai pelabuhan Melaka yang berhadapan dengan Sumatera…. Oleh itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan, insyaAllah, bergerak melawan mereka, maka kehancuran menyeluruh mereka tidak dapat dielakkan lagi, kerana satu benteng tidak boleh menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk penentangan yang bersepadu.”
Laporan ini memang cukup beralasan, kerana pada tahun 941 H/1534 M, sebuah skuadron Portugis yang diketuai oleh Diego da Silveira menghadang beberapa kapal dari Gujarat dan Aceh melalui Selat Bab el-Mandeb di Muara Laut Merah.

BENTUK-BENTUK HUBUNGAN

Portugis meluaskan pengaruhnya bukan hanya ke Timur Tengah tetapi juga ke Samudera India. Raja Portugis Emanuel I secara terang-terangan menyampaikan tujuan utama ekspedisi tersebut dengan mengatakan, “Sesungguhnya tujuan dari pencarian jalan laut ke India adalah untuk menyebarkan agama Kristian, dan merampas kekayaan orang-orang Timur”. Khilafah Uthmaniyah tidak berdiam diri. Pada tahun 925H/1519 M, Portugis di Melaka digemparkan oleh berita tentang penghantaran armada ‘Utsmani’ untuk membebaskan Muslim Melaka dari penjajahan kafir. Khabar ini tentu saja sangat menggembirakan umat Islam setempat.

Ketika Sultan Ala Al-Din Riayat Syah Al-Qahhar naik takhta di Aceh pada tahun 943 H/1537 M, ia menyedari keperluan Aceh untuk meminta bantuan ketenteraan dari Turki. Bukan hanya untuk mengusir Portugis di Melaka, tetapi juga untuk menakluk wilayah lain, khususnya daerah pedalaman Sumatera, seperti daerah Batak. Al-Kahar menggunakan pasukan Turki, Arab dan Habsyah. Pasukan Khilafah 160 orang dan 200 orang askar dari Malabar, membentuk kelompok elit angkatan bersenjata Aceh. Al-Kahhar selanjutnya mengerahkan untuk menakluk wilayah Batak di pedalaman Sumatera pada 946 H/1539 M. Mendez Pinto, yang mengamati perang antara pasukan Aceh dengan Batak, melaporkan kembalinya armada Aceh di bawah komando seorang Turki bernama Hamid Khan, anak saudara Pasya Utsmani di Kaherah.

Seorang sejarawan Universiti Kebangsaan Malaysia, Lukman Taib, mengakui adanya bantuan Khilafah Uthmaniyah dalam penaklukan terhadap wilayah sekitar Aceh. Menurut Taib, perkara ini merupakan ungkapan perpaduan umat Islam yang memungkinkan Khilafah Uthmaniyah melakukan serangan langsung terhadap wilayah sekitar Aceh. Bahkan, Khilafah mendirikan akademi tentera di Aceh bernama ‘Askeri Beytul Mukaddes’ yang diubah menjadi ‘Askar Baitul Maqdis’ yang lebih sesuai dengan loghat Aceh. Maktab ketenteraan ini merupakan pusat yang melahirkan pahlawan dalam sejarah Aceh dan Indonesia. Demikianlah, hubungan Aceh dengan Khilafah yang sangat akrab. Aceh merupakan sebahagian dari wilayah Khilafah. Persoalan umat Islam Aceh dianggap Khilafah sebagai persoalan dalam negeri yang mesti segera diselesaikan.
Nur Al-Din Al-Raniri dalam Bustan Al-Salathin meriwayatkan, Sultan Ala Al-Din Riayat Syah Al-Qahhar mengirim utusan ke Istanbul untuk mengadap Khalifah. Utusan ini bernama Huseyn Effendi yang fasih berbahasa Arab. Ia datang ke Turki setelah menunaikan ibadah haji. Pada Jun 1562 M, utusan Aceh itu tiba di Istanbul untuk meminta bantuan ketenteraan Uthmaniyah untuk menghadapi Portugis. Duta itu dapat mengelak dari serangan Portugis dan sampai di Istanbul, ia mendapat bantuan Khilafah, dan menolong Aceh membangkitkan askarnya sehingga dapat menakluk Aru dan Johor pada 973 H/1564 M.

Hubungan Aceh dengan Khilafah terus berlanjutan, terutama untuk menjaga keamanan Aceh dari serangan Portugis. Menurut seorang penulis Aceh, pengganti Al-Qahhar Ke2 iaitu Sultan Mansyur Syah (985-998 H/1577-1588 M) memperbaharui hubungan politik dan ketenteraan dengan Khilafah. Hal ini disahkan oleh sumber sejarah Portugis. Uskup Jorge de Lemos, setiausaha Raja Muda Portugis di Goa, pada tahun 993 H/1585 M, melaporkan kepada Lisbon bahawa Aceh telah kembali berhubungan dengan Khalifah Utsmani untuk mendapatkan bantuan ketenteraan untuk melancarkan peperangan baru terhadap Portugis. Pemerintah Aceh berikutnya, Sultan Ala Al-Din Riayat Syah (988-1013 H/1588-1604 M) juga dilaporkan telah melanjutkan lagi hubungan politik dengan Turki. Bahkan, Khilafah Uthmaniyah dikatakan telah mengirim sebuah bintang kehormat kepada Sultan Aceh, dan mengizinkan kapal-kapal Aceh untuk mengibarkan bendera Khilafah.

Hubungan akrab antara Acheh dan Khilafah Othmaniah telah berperanan mempertahankan kemerdekaannya selama lebih 300 tahun. Kapal-kapal atau perahu yang digunakan Aceh dalam setiap peperangan terdiri dari kapal kecil yang laju dan kapal-kapal besar. Kapal-kapal besar atau tongkang yang mengarungi lautan hingga Jeddah berasal dari Turki, India, dan Gujerat. Dua daerah ini merupakan wilayah Khilafah Uthmaniyah. Menurut Court, kapal-kapal ini cukup besar, berukuran 500 sampai 2000 tan. Kapal-kapal besar dari Turki dilengkapi meriam dan senjata lain digunakan Aceh untuk menyerang penjajah Eropah yang mengganggu wilayah-wilayah muslim di Nusantara. Aceh tampil sebagai kekuatan besar yang amat ditakuti Portugis kerana diperkuat oleh pakar senjata dari Turki sebagai bantuan Khilafah kepada Aceh.
Menurut sumber Aceh, Sultan Iskandar Muda (1016-1046 H/1607-1636 M) mengirimkan armada kecil yang terdiri dari tiga buah kapal. Ia tiba di Istanbul setelah belayar dua setengah tahun melalui Tanjung Harapan. Ketika misi ini mereka kembali ke Aceh dengan bantuan senjata, pakar tentera, dan sepucuk surat tentang persahabatan Uthmani dan hubungannya dengan Aceh. 12 pakar tentera itu dipanggil sebagai pahlawan di Aceh. Mereka juga dikatakan begitu ahli sehingga mampu membantu Sultan Iskandar Muda, tidak hanya dalam membina benteng yang kukuh di Banda Aceh, tetapi juga untuk membina istana kesultanan.

Kesan kejayaan Khilafah Utsmaniyah menghalang Portugis di Lautan Hindi tersebut amat besar. Diantaranya mampu mempertahankan tempat-tempat suci dan jalan-jalan untuk menunaikan haji; kesinambungan pertukaran barang-barang India dengan pedagang Eropah di pasar Aleppo (Syria), Kaherah, dan Istanbul; serta kesinambungan laluan perdagangan antara India dan Indonesia dengan Timur Jauh melalui Teluk Arab dan Laut Merah.

Hubungan beberapa kesultanan di Nusantara dengan Khilafah Uthmaniyah yang berpusat di Turki nampak jelas. Misalnya, Islam masuk Buton (Sulawesi Selatan) abad 16M. Silsilah Raja-Raja Buton menunjukkan bahawa setelah masuk Islam, Lakilaponto dilantik menjadi ‘sultan’ dengan gelar Qaim ad-Din (penegak agama) yang dilantik oleh Syekh Abd al-Wahid dari Mekah. Sejak itu, dia dikenali sebagai Sultan Marhum dan semenjak itu juga nama sultan disebut dalam khutbah Jumaat. Menurut sumber setempat, penggunaan gelaran ‘sultan’ ini berlaku setelah dipersetujui Khilafah Uthmaniyah (ada juga yang mengatakan dari penguasa Mekah). Syeikh Wahid mengirim khabar kepada Khalifah di Turki. Realiti ini menunjukkan Mekah berada dalam kepemimpinan Khilafah, dan Buton memiliki hubungan ‘struktur’ secara tidak kuat dengan Khilafah Turki Utsmani melalui perantaraan Syekh Wahid dari Mekah.

Sementara itu, di wilayah Sumatera Barat, Pemerintah Alam Minangkabau yang memanggil dirinya sebagai “Aour Allum Maharaja Diraja” dipercayai adalah adik lelaki sultan Ruhum (Rum). Orang Minangkabau percaya bahawa pemerintah pertama mereka adalah keturunan Khalifah Rum (Utsmani) yang ditugaskan untuk menjadi Syarif di wilayah tersebut. Ini memberikan maklumat bahawa kesultanan tersebut memiliki hubungan dengan Khilafah Uthmaniyah.

Di samping adanya hubungan langsung dengan Khilafah Uthmaniyah, ada beberapa kesultanan yang berhubungan secara tidak langsung, misalnya kesultanan Ternate. Pada tahun 1570an, ketika perang Soya-soya melawan Portugis, Sultan Ternate, Baabullah, dibantu oleh para sangaji dari Nusa Tenggara yang terkenal dengan armada perahu dan Demak dengan askar Jawa. Begitu juga Aceh dengan armada laut yang perkasa dan kekuatan 30,000 buah kapal perang telah menyekat pelabuhan Sumatera dan menyekat pengiriman bahan makanan dan peluru Portugis melalui India dan Selat Melaka. Musuh Ternate adalah musuh Demak.

Berdasarkan beberapa hakikat ini jelas bahawa kesultanan Islam di Nusantara memiliki hubungan dengan Khilafah Utsmaniyah. Bentuk hubungan tersebut berbentuk perdagangan, ketenteraan, politik, dakwah, dan kekuasaan.

SAMBUTAN (Reaksi - Fikrul) UMAT ISLAM DI ALAM MELAYU TERHADAP PENYATUAN UMAT

Semasa Khilafah Islamiyah dalam kesusahan, di mana beberapa wilayahnya mula diduduki oleh penjajah, muncul usaha untuk mengukuhkan kesatuan Islam yang diterajui oleh Sultan Abdul Hamid II. Beliau mengatakan, “Kita wajib menguatkan ikatan kita dengan kaum Muslim di belahan bumi yang lain. Kita wajib saling mendekati dalam ikatan yang amat kuat. Sebab, tidak ada harapan lagi di masa depan kecuali dengan kesatuan ini.” Inilah gagasan yang dikenali sebagai Pan-Islamisme. Usaha menguatkan kesatuan Islam sampai ke Nusantara.
Snouck Hourgronje, penasihat Belanda, sentiasa memberikan maklumat kepada pemerintah Hindia Belanda bahawa ada usaha gerakan Pan-Islamisme untuk memujuk raja-raja dan pembesar-pembesar Hindia Belanda (kaum Muslim) untuk datang ke Istana Sultan Abdul Hamid II di Istanbul. Tujuan jangka pendek yang ingin dicapai di Batavia, mengikut ulasan Snouck, adalah untuk mendapatkan persamaan kedudukan orang-orang Arab dan kemudian untuk semua orang Islam sederajat dengan orang-orang Eropah. Jika tujuan ini sudah tercapai maka orang-orang Islam tidak lagi sukar mendapat kedudukan yang lebih tinggi dari orang Eropah, bahkan boleh mengalahkan mereka sama sekali. Pemerintah Hindia Belanda amat risau bila kaum Muslim tahu bahawa Sultan Abdul Hamid II menyediakan biasiswa untuk pemuda Islam. Atas pembiayaan Sultan Abdul Hamid II, mereka masuk ke sekolah-sekolah yang tinggi untuk menerima pendidikan ilmiah dan mendapat kesedaran yang mendalam tentang kelebihan setiap muslim atas orang-orang kafir. Kesedaran dan kehinaan yang mendalam yang tidak harus mereka terima dan membiarkan diri mereka diperintah oleh orang kafir. Jika mereka telah menyelesaikan pelajaran dan telah menamatkan ibadah haji ke Mekah, mereka diharapkan dapat berperanan mengembangkan pemikiran Islam di daerah mereka.

Usaha pengukuhan kesatuan ini terus dilakukan. Pada tahun 1904 telah ada 7 hingga 8 konsul (utusan) telah ditempatkan Khilafah Utsmaniyah di Hindia Belanda. Diantara kegiatan para duta ini adalah mengedar mushaf al-Quran atas nama sultan, dan karya-karya teologi Islam dalam bahasa Melayu yang dicetak di Istanbul. Di antara kitab tersebut adalah tafsir al-Quran yang di halaman judulnya menyebut “Sultan Turki Raja semua orang Islam”. Istilah Raja di sini sebenarnya adalah kata al-Malik yang bererti pemimpin, dan semua orang Islam mengantikan istilah Muslimin. Jadi, sebutan tersebut menunjukkan pengisytiharan Khalifah bahawa beliau adalah pemerintah umat Islam sedunia. Hal ini menunjukkan bahawa khilafah Uthmaniyah terus berusaha untuk menyatukan kesultanan Melayu ke dalamnya, termasuk melalui penyebaran al-Quran.

Sebagai tindakbalas terhadap gerakan penyatuan Islam oleh Khilafah Uthmaniyah ini, terdapat beberapa pertubuhan pergerakan Islam di Alam Melayu yang mendokong gerakan tersebut di Hindia Belanda. Abu Bakar Atjeh menyebutkan di antara pertubuhan itu adalah Jam’iyat Khoir yang didirikan pada 17 Julai 1905 oleh keturunan Arab. Karangan-karangan pergerakan Islam ini di Nusantara dimuatkan dalam akhbar dan majalah di Istanbul, di antaranya majalah Al-Manar. Khalifah Abdul Hamid II di Istanbul pernah mengirim utusannya ke Indonesia, Ahmed Amin Bey, atas permintaan dari kumpulan tersebut untuk mengkaji keadaan umat Islam di Indonesia. Akibatnya, pemerintah penjajah Hindia Belanda melarang orang-orang Arab mengunjungi beberapa daerah tertentu.
Pertubuhan pergerakan Islam lain yang muncul sebagai sambutan positif terhadap penyatuan ini adalah Sarikat Islam. Bendera Khilafah Uthmaniyah dikibarkan pada Kongres Nasional Sarikat Islam di Bandung pada tahun 1916, sebagai simbol perpaduan sesama muslim dan penentangan terhadap penjajahan. Ketika itu, salah satu usaha yang dilakukan Khilafah Uthmaniyah adalah menyebarkan seruan jihad dengan atasnama khalifah kepada segenap umat Islam, termasuk Indonesia, yang dikenal sebagai Jawa. Di antara seruan tersebut adalah:

“Wahai saudara seiman, perhatikanlah berapa negara lain menjajah dunia Islam. India yang luas dan berpenduduk 100 juta muslim dijajah oleh sekelompok kecil musuh dari orang-orang kafir Inggeris. 40 juta muslim Jawa dijajah oleh Belanda. Maghribi, Algeria, Tunisa, Mesir dan Sudan menderita dibawah cengkaman musuh Tuhan dan RasulNya. Juga Kuzestan, berada di bawah tekanan penjajah musuh iman. Parsi dipecah-belah. Bahkan takhta khilafah pun, oleh musuh-musuh Tuhan selalu ditentang dengan segala macam cara”.

Hakikat ini memberikan gambaran bagaimana Khilafah Uthmaniyah member dokongan dan bantuan kepada kaum Muslim Indonesia serta memandangnya sebagai satu tubuh, bahkan menyeru untuk membebaskan diri dari penjajah musuh iman. Dalam hal ini kaum Muslim memberikan sambutan positif terhadap usaha pengukuhan kesatuan umat Islam sedunia tersebut.

Comments 2 Comments »

Dari buku Kelantan : a state of the Malay peninsula - a handbook of information oleh W.A. Graham yang diterbitkan oleh Glasgow : Glasgow U. P., 1908.

LELAKI KELANTAN

PEREMPUAN KELANTAN

Comments 3 Comments »

Dari buku Kelantan : a state of the Malay peninsula - a handbook of information oleh W.A. Graham yang diterbitkan oleh Glasgow : Glasgow U. P., 1908.

Comments No Comments »

Dari buku Kelantan : a state of the Malay peninsula - a handbook of information oleh W.A. Graham yang diterbitkan oleh Glasgow : Glasgow U. P., 1908.

Comments No Comments »

SINGAPURA 12 Dis. - Ahli- ahli sains mengingatkan penduduk Sumatera supaya mengambil langkah berjaga-jaga berikutan ramalan satu gempa bumi kuat dijangka berlaku dalam waktu terdekat ini.

Menurut mereka, ramalan itu berdasarkan kajian yang dijalankan selepas berlaku tsunami di Acheh pada tahun 2004.

Kajian selama empat tahun itu mendapati gempa bumi itu berpotensi menyebabkan gelombang lebih besar serta membawa kemusnahan kepada kehidupan di sekitar kepulauan itu.

Semasa gempa bumi pada 26 Disember 2004 itu, gempa berukuran 9 pada skala Richter telah melanda luar pantai Acheh sehingga ke utara Pulau Andaman di Lautan Hindi yang berlaku pada pukul 7.59 pagi (8.59 pagi waktu Malaysia).

Gegaran kuat itu telah menyebabkan berlaku tsunami yang menyebabkan lebih 220,000 orang terkorban di pesisiran lautan Hindi termasuk 168,000 di kepulauan Sumatera.

Sementara itu, Pengarah Program Pemerhatian Gempa Bumi, Universiti Teknologi Nanyang, Singapura, Kerry Siah Sieh berkata, pada tahun lepas gegaran berukuran 8.4 pada skala Richter telah berlaku dan dalam tempoh beberapa saat menyebabkan berlaku gempa bumi di sekitar pantai barat Sumatera termasuk di Bandar Padang.

“Gegaran itu akan mewujudkan pergerakan pusingan seismos yang ketara dan menyebabkan berlaku gelinciran dikenali sebagai Mentawai.

“Proses seperti itu telah berlaku sejak kira-kira 700 tahun lalu dan memberi kesan terhadap struktur geologi serta membentuk pergerakan tanah dan menghasilkan gempa bumi di kawasan tersebut,” katanya.

Comments No Comments »

Champa (abad ke-2M hingga ke-19M1) merupakan kerajaan Melayu kuno terawal yang ditubuhkan. Pada abad yang sama kerajaan Hindu Langkasuka (abad ke-2 hingga ke-9) yang keluasannya meliputi kawasan-kawasan dari Segenting Kra (dari selatan Senggora [Songkhla] iaitu keseluruh Patani) hingga ke Kedah Lama dan Kelantan, muncul sebagai kerajaan Melayu kedua dan maju berkembang sebagai pusat pertukangan dan pengeluar barang-barang terutamanya daripada perak dan barang-barang keluaran Langkasuka terkenal hingga ke semenanjung Arab.

Di Sumatera pula pada abad ke-7 terdiri kerajaan Buddha Srivijaya (abad ke-7 hingga ke-12) yang berpusat di Palembang sebagai kuasa Melayu yang agak berbeza daripada Champa dan Langkasuka kerana kekuatannya bukan dari segi peranannya sebagai pusat dagangan, tetapi sebagai kerajaan Melayu pertama yang mementingkan kuasa ketenteraan daripada perdagangan.

Kemudian diikuti oleh Perlak, sebuah pusat dagang penting di Sumatera di kawasan yang kini di dalam Propinsi Aceh, diasaskan dalam tahun 804 (abad ke-9) dan merupakan Kerajaan Melayu-Islam pertama di rantau ini. Dengan munculnya kekuatan Srivijaya timbullah perebutan kawasan dan jajahan dan pada abad ke-9 Langkasuka jatuh ke tangan Srivijaya dan bermulalah pengembangan jajahan Srivijaya ke Tanah Melayu (termasuk juga ke Pahang dan Terengganu).

Kejatuhan Langkasuka diganti dengan terdirinya Patani yang kemudiannya dikenal sebagai Patani Darus Salam. Patani yang tekenal sebagai pusat dakwah Islamiah serta mempunyai ramai ulamak-ulamak yang terkenal di serata dunia Islam, berkembang maju sehingga pertengahan abad ke-19 apabila ianya jatuh ke tangan Siam. Proses perebutan wilayah dan dominasi kuasa ini berterusan apabila kerajaan Hindu Majapahit di Pulau Jawa (abad ke-10 hingga ke-14) muncul sebagai kekuatan yang baru dan akhirnya pada abad ke-12 Srivijaya dijatuhkan oleh Majapahit. Dalam kesebokan Majapahit dengan misi-misi tenteranya, pada 1403 di Tanah Melayu muncul pula Kerajaan Melayu (pada awalnya Hindu dan kemudiannya bertukar kepada Islam) yang baru di Melaka (awal abad ke-15 hingga ke-16).

Sesuai dengan panggilannya oleh pedagang-pedagang Arab dengan nama Mulaqat yang bermakna ‘Tempat Berhimpun Pedagang-pedagang’, Melaka termasyhur sebagai pusat dagangan terbesar di dunia ketika itu, sehinga pernah dilaporkan sebagai mempunyai simpanan emas terbesar di dunia. Dengan kejayaan yang dicapai oleh Melaka, ia tidak sunyi daripada gangguan Majapahit.

Akan tetapi seperti mana dikisahkan dalam Hikayat Hang Tuah, pahlawan Majapahit yang termasyhur, Adi Taming Sari telah dikalahkan oleh Hang Tuah dalam satu pertarungan sehingga keris keramatnya yang terkenal dengan segala kesaktian telah dapat dirampas oleh Pahlawan Melaka itu. Dengan itu lenyaplah ambisi Majapahit ke atas Melaka. Majapahit jatuh pada 1478 dan terdiri pula kerajaan Islam di Demak. Melaka pula jatuh ke tangan penjajah Portugis, pada 1511.

Ketahanan Champa sebagai sebuah kerajaan melampaui satu ruang masa yang lama meskipun ianya tidak sunyi daripada serangan-serangan dari negara-negara jirannya. Berbeza dengan kerajaan-kerajaan Melayu lain yang terus hancur apabila dikalahkan, Champa terus wujud sebagai kerajaan meskipun keluasan kawasan pemerintahannya semakin mengecut dari masa ke masa.

Champa sering disebutkan dalam sejarah kerajaan-kerajaan Melayu lama, akan tetapi tak banyak diceritakan tentangnya. Dalam sastera-sastera Melayu pula Champa banyak dikaitkan dalam mitos-mitos sehingga gambaran yang diperolehi adalah seolah-olah negeri ini terletak di kayangan atau pun ia hanya negara khayalan sasterawan dahulukala. Sejarah Champa penting dalam kajian tentang ulamak-ulamak Patani serta dalam mengkaji susur galur keturunan Wan, Nik, Long dan Tuan.

Negara Champa (chäm-’pä) sering dikaitkan terutamanya dengan sejarah-sejarah kedatangan Islam ke Patani, Malaysia, Jawa, Sulawesi dan Sumatera. Akan tetapi banyak tanda-tanya dan kekeliruan yang timbul tentang Champa disebabkan terlampau sedikit maklumat yang terdapat tentang kerajaannya dan orang-orang Cham. Ada yang berpendapat bahawa Cham itu sebuah Negara.

Qaul-qaul yang lain pula berpendapat bahawa Champa adalah sebuah negeri yang ditubuhkan oleh sekumpulan orang Patani bersama dengan mubaligh-mubaligh dari Yaman dan Parsi, di suatu kawasan yang hampir dengan Siam dan Kemboja. Ramai juga yang menyangka bahawa Champa adalah Kemboja atau Cambodia, dan malahan ada yang berpendapat bahawa ianya sebuah negeri di India. Sir Stamford Raffles, dalam ‘History of Java’ yang dikarangnya pada 1817 berpendapat bahawa Champa merupakan sebuah tempat yang terletak di Acheh, yang dikenali dengan nama Jeumpa.

Lin Yi
Rekod terawal tentang negara kaum yang didirikan oleh kaum Cham, terdapat dalam manuskrip-manuskrip China yang dicatat oleh dua orang wakil Maharaja Wu, bernama Kang Thai dan Zhu Ying, bertarikh pertengahan abad ke-3 Masihi. Rekod itu adalah keterangan tentang Kerajaan Funan dan dinyatakan bahawa ‘Kerajaan Funan terletak lebih dari 3000 li3 ke barat Negara Lin Yi’.

Kerajaan ini yang di gelar oleh pengkaji sejarah sebagai Champa dikenali di kalangan orang China sebagai Lin Yi (yang Bermakna ‘hutan yang penoh dengan keganasan’); dan L�m-Âp, Ho�n-Vúòng, dan Chi�m-Thánh oleh orang-orang Vietnam. Adalah dipercayai bahawa kerajaan ini wujud semenjak tahun 192M di bawah pemerintahan raja Hindu bernama Sri Mara. Pengkaji sejarah menganggap Lin Yi yang dikenali juga sebagai Indrapura atau Angadvipa, sebagai negara Champa yang terawal.

Ada pendapat yang mengatakan bahawa kerajaan Lin Yi bermula semenjak 137M setelah kejatuhan Dinasti Han di negara China. Akibat daripada kejatuhan ini maka Pegawai Tinggi Han yang mentadbir wilayah tersebut telah mendirikan sebuah kerajaan di kawasan yang sekarang ini terletaknya bandar Hue di Vietnam dan melantik dirinya sebagai raja. Pada ketika itu kawasan itu diduduki oleh suku-suku yang senantiasa berperang dengan kawasan-kawasan jajahan China di Tonkin. Suku-suku ini dikenali sebagai puak-puak Cham dan adalah daripada rumpun Malayo-Polynesian yang berbudaya India (’Indianised Culture’).

Negara Champa
Terdapat banyak perkaitan sejarah, budaya dan agama antara Lin Yi dan wilayah-wilayah lain yang didiami oleh orang-orang Cham. Sekitar 400M terbentuk satu persekutuan antara suku-suku tersebut dan terdirilah lima wilayah atau negeri yang dikenali sebagai Nagara Champa. Disebabkan pengaruh India dan budaya Hindu terlampau kuat di kalangan orang Cham maka kelima-lima wilayah tersebut dikenali mengikut tempat-tempat di India, iaitu:

� Indrapura (Lin Yi),
� Amravati (Quang Nam),
� Vijaya (Binh Dinh),
� Kauthara (Nha Trang) dan
� Panduranga (Phan Rang).

Malahan nama Champa juga adalah sempena atau mengikut nama sebuah kerajaan Hindu di India Selatan. Penyatuan kelima-lima wilayah ini berlaku di atas kebijaksanaan Raja Bhadravarman I yang juga menjadi raja pertama yang memerintah persekutuan lima wilayah ini.

Disebabkan kelima-lima wilayah tersebut adalah di pesisir laut maka Champa mempunyai kekuatan dari segi angkatan laut. Mereka terkenal sebagai pelayar dan pedagang laut dan juga sebagai lanun. Berbeza dengan jiran-jiran mereka, Kaum Cham lebih berjaya dalam bidang perdagangan laut dan tidak dalam pertanian. Ekspot utama mereka adalah kayu gaharu yang termasyhur keseluruh dunia pada ketika itu.

Pada abad Ke-5M Lin Yi atau Champa telah menjelma sebagai satu kuasa yang kuat sehingga dapat menyediakan sebanyak lebih seratus kapal-kapal untuk dihantar menyerang pantai-pantai Sino-Vietnam di utara. Tetapi malangnya mereka tidak dapat menundukkan kuasa China yang lebih kuat dan pihak China telah menyerang balas. Akibatnya berlakulah penjarahan terhadap ibu negara Champa di Hue dan tentera China telah merampas lebih 100,000 pound emas tulen sebagai rampasan perang.

Kaum tertua
Meskipun kaum Cham merupakan kaum tertua di Indo-China, terlalu sedikit maklumat yang terdapat tentang kerajaan dan tamadun mereka. Mereka merupakan pewaris tradisi yang merangkumi satu zaman yang melebihi dua ribu tahun terdahulu. Tamadun mereka lebih tua dan awal daripada kerajaan Kemboja (Cambodia) yang bermula hanya sekitar 550M dan juga sebelum kerajaan Vietnam bermula sebagai satu kuasa penjajah ke kawasan-kawasan di selatan Delta Sungai Merah di Tonkin yang hanya bermula pada pertengahan abad ke-10M.

Kaum Cham dihukum Tuhan?
Pada kemuncak kekuasaan, sekitar 12 abad dulu, kaum Cham menguasai tanah-tanah yang subur bermula di Hue Utara di Annam Tengah sehingga Delta Mekong di Cochin China. Kawasan-kawasan ini kini menjadi sebahagian daripada negara Vietnam yang terdapat bandar-bandar Da Nang dan Nha Trang. Kesan-kesan Cham yang tinggal kini hanyalah rumah-rumah berhala sepi yang penuh misteri yang di kenali sebagai Menara Cham (’Cham Towers’).

Kehilangan negara atau kerajaan Champa dari bumi ini seolah-olah merupakan satu keganjilan kerana yang tinggal hanyalah warisan-warisan sejarah dan keturunan yang berselerak. Apakah agaknya bala yang telah diturunkan ke atas mereka sehingga menjadi seakan-akan negaranegara yang dihancurkan (’Perished Nations’) yang disebut dalam Al-Quran. Ke mana perginya keturunan mereka?

Siapakah Kaum Cham?
Mengikut sejarah Cham, kebudayaan Hindu lebih terserlah di kalangan kaum Cham disebabkan mereka merupakan kaum pedagang dan pelaut yang mempunyai sejarah perhubungan yang lama dengan India dan Jawa. Kedua-dua negara tersebut adalah pusat agama Hindu.

Orang-orang Cham berbahasa Malayo-Polynesian (Austronesian) berbeza dengan jiran-jiran mereka (Khmer dan Vietnam) yang berbahasa Mon-Khmer atau Austroasiatic. Dari segi perbandingan bahasa pula bahasa Cham lebih mirip kepada bahasa-bahasa di kepulauan Nusantara dan Pasifik terutamanya bahasa-bahasa yang dipertuturkan di Malaysia, Kalimantan, Sumatera, Java, Bali dan di kepulauan Indonesia lain di Lautan Pasifik.

Bahasa, Perawakan kaum Cham
Bahasa Cham dipertuturkan juga di kawasan pergunungan di Banjaran Annam atau kawasan pergunugnan Troung Son. Suku orang-orang bukit seperti Chru, Ed�, Hroy, Jörai, Rhade (Koho), dan Raglai menggunakan bahasa yang banyak persamaan dengan bahasa Cham. Dengan sebab ini mereka juga diiktiraf juga sebagai orang-orang Cham.

Dari segi perawakan pula, kaum Cham lebih mirip kepada keturunan Melayu dan Jawa dan ada teori-teori bahawa asal mereka adalah pendatang dari tanah-tanah tersebut. Malahan terdapat persamaan adat di antara orang Cham dan orang Pagar Ruyung atau Minangkabau, di mana kaum perempuan mempunyai kuasa adat dan perwarisan (matriarchal system), yakni keturunan menurut garis Ibu, sebagai salah satu ciri khas kebudayaan. Sistem materilinial ini telah membawa konsekwensi kepada budaya meneroka atau berkelana yang selalunya diamalkan oleh kaum lelaki.

..Ada pula pendapat bahawa orang-orang Aceh adalah daripada keturunan orang Cham. Dalam perkembangan agama meskipun Hindu Brahmana menjadi agama rasmi kerajaan Champa, terdapat juga perkembangan dan pengaruh agama Buddhisma Mahayana.

Dalam sejarah Champa, perhubungan dan pertalian antara Champa dan kerajaan-kerajaan di Indonesia, seperti Sri Vijaya atau Majapahit adalah berdasarkan kepada agama Hindu yang menjadi kesamaan antara mereka. Dan perhubungan dengan Sailendra (di Jawa Tengah) pula adalah di atas pertalian agama Buddhisma Mahayana yang pada ketika itu berpusat di Borobudur. Kerajaan Baru Champa di Panduranga, adakah ini kerajaan Islam Champa?
Dengan kejatuhan Vijaya pada 1471 maka ibu negara Champa berpindah untuk kesekian kalinya dan kali ini ke Panduranga. Mengikut sejarah, semenjak perlantikan Po Tri Tri sebagai raja untuk keseluruh Champa dan dengan perpindahan beliau ke Panduranga maka bermulalah perkembangan Islam secara besar-besaran di Champa.

Bahasa Sanskrit yang selama ini menjadi bahasa rasmi Champa juga tidak digunakan lagi. Semenjak era inilah Champa bertukar corak. Tidak pasti sama ada Champa terus menerus diperintah oleh raja Islam sehingga kejatuhannya ke Vietnam, akan tetapi berdasarkan kepada keunikan sistem pentadbiran yang diamalkan di Champa di mana terdapat pelbagai kerajaan dalam satu wilayah pada masa yang sama, maka berkemungkinan bahawa ada raja-raja Islam yang memerintah Champa pada zaman tiga abad selepas kejatuhan Vijaya.

Mengikut rekod sejarah Johor, pada 1594 kerajaan Champa telah menghantar bala tenteranya untuk membantu Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Shah II Sultan Johor (memerintah: 1571 � 1597) dalam peperangannya dengan Portugis. Daripada rekod-rekod Belanda pula terdapat catatan bahawa perhubungan baik antara Kerajaan Melayu Johor dan Champa wujud pada 1607, iaitu sewaktu Champa di bawah pemerintahan Po Nit dan Johor pula di bawah Sultan Alauddin Riayat Shah II (memerintah: 1597 � 1614). Ini tak mungkin berlaku sekiranya tidak ada persamaan atau ikatan yang kuat antara kedua negara tersebut. Apakah asas setiakawan antara mereka? Adakah kerana mereka menganuti agama yang sama atau disebabkan oleh persamaan rumpun bangsa?

Daripada rekod-rekod yang terdapat di Belanda pula, terdapat maklumat yang meperkukuhkan pendapat bahawa pada tiga abad tersebut, Raja Champa adalah terdiri daripada raja yang beragama Islam dan Bahasa Melayu pula digunakan dengan meluas di Champa. Terdapat sepucuk surat yang dikirimkan oleh Raja Champa pada 1680 kepada Penguasa Syarikat Dutch East Indies (’VOC’) di Betawi, dalam bahasa Melayu.

Raja Champa sewaktu itu, Po Saut, di dalam surat tersebut telah menggelarkan dirinya sebagai ‘Paduka Seri Sultan’. Dengan gelaran ini sebagaimana yang diterangkan, besar kemungkinan bahawa kedudukannya adalah sebagai ‘Raja kepada Raja-raja di Champa’! Pada zaman itu, pengaruh Bahasa Melayu di negara-negara pesisiran pantai di Asia Tenggara sungguh meluas sehinggakan Raja Kemboja juga menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa diplomatik dalam perhubungan surat menyuratnya dengan pihak-pihak Portugis dan Belanda.

Kelantan ada kaitan Champa?
Ini satu kemungkinan sekiranya berdasarkan kepada kewujudan pertalian antara Kelantan dan Champa semenjak dahulu kala. Di Kelantan terdapat nama-nama yang ada kaitan dengan Champa seperti Pengkalan Chepa, Kampung Chepa dan Gong Chepa; dan nama-nama pakaian dan perhiasan seperti tanjak Cepa, kain tenun Cepa, sutera Cepa, sanggul Cepa dan keris Cepa. Masjid Kampung Laut, yang merupakan antara masjid yang tertua di Malaysia juga dipercayai dibina oleh orang-orang Champa yang singgah di Kampung Laut dalam perjalanan ke Demak di pulau Jawa pada awal abad ke-16.

Malahan ada sebuah hikayat Cham yang bertajuk Nai Mai Mang Makah (Puteri dari [Serambi] Mekah) yang meriwayatkan tentang seorang puteri diraja Kelantan (Serambi Mekah) yang datang ke Champa untuk mengajak seorang Raja Champa kepada Islam.

Garisan Zaman (’Timeline’) Champa
Abad ke-2M = Lin Yi wujud sebagai Negara Kaum Cham di bawah pemerintahan Sri Mara.

Abad ke-3M = Kerajaan Lin Yi (L�m-Âp) dicatat dalam Sejarah China. Lin Yi menyerang Viet Nam and China Selatan pada tahun 248.

Abad ke-5M = Penyatuan lima wilayah Cham iaitu Indrapura (Lin Yi), Amravati (Quang Nam), Vijaya (Binh Dinh), Kauthara (Nha Trang) dan Panduranga (Phan Rang) sebagai Negara Champa di bawah pemerintahan Raja Bhadravarman I.

543 = Champa menyerang Viet Nam tetapi telah dikalahkan oleh Pham Tu, Panglima kepada Raja Ly Bon.

982 = Tentera Ðai Viet di bawah Ly Thuong Kiet menyerang dan mengundurkan sempadan Champa sehingga ke selatan Hoanh Son (Thanh Hoa)

1069 Raja Ly Thanh Tong mengepalai serangan Ðai Viet ke atas Champa; menjarah Vijaya dan menahan Raja Rudravarman III (Che Cu) sebagai tebusan untuk penukaran tiga wilayah iaitu Dia Ly, Ma Linh dan Bo Chanh (kini dikenali sebagai Quang Binh dan Quang Tri)

1307 = Puteri Vietnam Huyen Tran berkahwin dengan Raja Jaya Sinhavarman III (Che M�n), dan sebagai ‘dowry’ telah diserahkan dua wilayah iaitu O dan Ly.

1370 = Raja Che Bong Ng� berkali-kali menyerang dan menjarah Thang Long (Ha Noi). Che Bong Ng� mati dibunuh dalam peperangan yang lain pada 1382.

1402 = Ðai Viet menyerang Champa. Ho Quy Ly memaksa Raja Campadhiraya untuk menyerahkan Indrapura (Quang Nam) dan wilayah Amaravati (Champa Utara) kepada Ðai Viet.

1471 = Tentera Ðai Viet dibawah pimpinan Raja Le Thanh Tong menawan dan menghancurkan Vijaya. Ðai Viet menduduki kawasan yang baru dirampas ini dan menjadikan kawasannya jajahan baru sebagai wilayah Thang Hoa, Tu Nghia dan Hoai Nhon.

1578 = Panglima Nguyen Hoang merampas kawasan Champa di Phu Yen.

1611 = Champa menyerang Ðai Viet dalam usahanya untuk merebut kembali Binh-Dinh, tetapi gagal.

1653 = Champa melancarkan serangan ke atas Ðai Viet sekali lagi dan gagal. Batasan sempadan selatan Ðai Viet meluas sehingga ke Cam-Ranh.

1653 = Panglima Nguyen Phuc Tan menawan wilayah Kauthara dan membesarkan sempadan Ðai Viet ke selatan sehingga ke Cam Ranh.

1692 = Panglima Nguyen Phuc Chu merampas wilayah saki baki Champa yang lain dan menjadikan mereka sebagai wilayah jajahan dalam Tran Thuan Thanh.

1832 = Raja Ðai Viet, Minh-Menh menjatuhkan Raja Champa yang dilantik oleh Ðai Viet dan ini menandakan pengakhiran kepada Champa sebagai satu wilayah khusus untuk orang Cham.

1833 - 1834 = Pemberontakan Katip (Khatib) Sumat (seorang Muslim) untuk merampas kembali wilayah Champa dari Ðai Viet tetapi gagal.

1834 - 1835 = Pemberontakan Khatib Ja Thak Va (juga seorang Muslim tetapi bermazhab Syi’ah) untuk menyambung perjuangan Katip Sumat menentang Ðai Viet. Juga gagal.

Comments 3 Comments »

Mindanao ialah pulau ke-19 terbesar di dunia. Ia adalah pulau Melayu. Apa yang dimaksudkan dengan Melayu di sini dalam erti kata yang luas.

Ia juga merujuk kepada Kepulauan Melayu yang meliputi negara-negara Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei dan Filipina. Bukan itu saja, ia juga meliputi Thailand Selatan, Timor Leste, malah Papua New Guinea.

Thailand Selatan adalah jelas Melayu kerana di situlah warisan keultanan Pattani yang kini berbentuk empat wilayah Melayu iaitu Yala, Narathiwat, Pattani dan Songkhla. Nama Melayu Songkhla ialah Singgora.

Seperti mana Phuket adalah Bukit. Kemelayuan mereka tidak dipertikaikan walaupun sudah banyak penduduk Melayu di situ hanya mampu berbahasa Thai. Iaitu di samping kedaulatan Thailand ke atas empat wilayah itu diterima oleh orang Melayu sendiri.

Jadi, siapakah mereka? Adakah mereka itu orang Thai atau orang Melayu. Atau orang Thai keturunan Melayu. Atau orang Melayu Thai. Jati diri menjadi tanda tanya.

Maka dalam hal ini, apakah yang dimaksudkan dengan Melayu? Banyak pertikaian dan pendapat tentang perjara ini. Bagaimanapun penulis mempunyai pandangan yang tentunya tidak semestinya dipersetujui oleh orang lain.

Banyak definisi tentang Melayu. Ada definisi sempit. Ada definisi longgar. Di Malaysia takrif Melayu adalah sempit iaitu seseorang Melayu mesti beragama Islam, berbahasa Melayu dan mengikut budaya Melayu.

Tetapi jika dilihat bahawa definisi di Malaysia itu tidak wajar dilihat sebagai sempit kerana seseorang itu tidak perlu berdarah keturunan Melayu. Cukup sekadar dengan tiga syarat itu. Paling penting ialah dia mesti beragama Islam.

Maknanya, di Malaysia, gen tidak penting bagi menentukan Melayu. Yang penting adalah faktor KEBERSAMAAN iaitu agama, bahasa dan budaya. Jika takrif ini dikenakan ke atas Melayu Thai, maka mereka tidak layak untuk dipanggil Melayu.

Ini kerana mereka sudah tidak berbahasa Melayu terutamanya di sekitar Phuket. Justeru takrif Melayu yang dipakai di Malaysia tidak sesuai untuk digunakan di Thailand.

Namun begitu, kemelayuan Melayu Thai tidak dapat dipertikaikan walaupun mereka tidak berbahasa Melayu. Ini kerana mereka sememangnya mewarisi Kesultanan Pattani yang jelas merupakan kerajaan Melayu.

Maka empat wilayah Melayu Thailand itu adalah sebahagian daripada kepulauan Melayu. Sejarah menjadi ciri penting bagi jati diri Melayu.

Begitu juga dengan Melayu Champa di Vietnam dan Kemboja. Mereka juga orang Melayu. Tetapi wilayah mereka sudah tidak dianggap sebagai sebahagian daripada kepulauan Melayu walaupun Champa merupakan kerajaan Melayu paling awal, baik semasa mereka beragama Hindu-Buddha mahupun setelah memeluk Islam.

Begitu juga Melayu di Sri Lanka, Madagascar, Surinam dan Afrika Selatan. Mereka adalah melayu tetapi tentunya tanah mereka bukan sebahagian daripada kepulauan Melayu. Walaupun Madagascar, umpamanya pada keseluruhannya didiami oleh bangsa Malagasy yang merupakan sebahagian daripada rumpun Melayu.

Justeru, untuk memudahkan definisi melayu, biarlah dihadkan kepada kepulauan melayu. Sesiapa yang tinggal dalam kepulauan Melayu, maka dianggap sebagai Melayu.

Ini termasuklah Timor Leste dan Papua New Guinea. Dari segi bangsa, Timor Leste bukanlah berbangsa Melayu dalam erti kata yang difahami umum. Walaupun mereka pernah menjadi sebahagian daripada Indonesia.

Tetapi bangsa di Timor Leste adalah serupa saja dengan penduduk di Timor Barat yang merupakan sebahagian daripada Indonesia. Ini kerana Timor Leste, yang dahulunya dikenali sebagai Timor Timur berkongsi pulau dengan Timor Barat. Dan pulau ini adalah sebahagian daripada kepulauan Melayu.

Begitu juga dengan Papua New Guinea. Penduduknya bukan berbangsa Melayu. Tetapi mereka adalah serumpun dengan penduduk di Papua, dahulunya dikenalis sebagai Irian Jaya. Sebelum itu Irian jaya dikenali sebagai Irian Barat.

Sebelum itu ia adalah Papua Barat. Maknanya papua New Guinea itu adalah Papua Timur. Kedua-duanya adalah dalam pulau Papua, dan Papua adalah sebahgian daripada kepulauan Melayu.

Maka, kepulauan Melayu merujuk kepada semua pulau-pulau di Asia Tenggara. Tetapi tentunya ia tidak termasuk Australia, New Zealand dan kepulauan Polynesia, walaupun penduduk aslinya seperti Aborigin, Maori, Polynesia termasuk Hawaii merupakan serumpun besar bukan saja orang Papua tetapi juga Melayu. Termasuk kategori ini ialah orang peribumi di pulau Taiwan.

Tetapi apabila disebut kepulauan Melayu, ia juga termasuk dua wilayah yang bukannya pulau. Ia hanyalah semenanjung dan dari segi geografi, ia adalah sebahagian daripada Yanah Besar Asia Tenggara.

Dua wilayah itu ialah Semenanjung Malaysia dan Thailand Selatan, atau nama lamanya Tanah Melayu dan Pattani. Atau Pattani itu adalah sebahagian daripada Tanah Melayu. Kelantan pun pernah merupakan sebahagian daripada kesultanan Pattani.

Jadi, walaupun kerajaan pertama Melayu bermula di Champa di Tanah Besar Asia Tenggara tetapi nama Melayu bermula dari Sungai Melayu di Sumatera.

Kerajaan Sri Wijaya yang bermula di Palembang mewarisi kerajaan Champa dan lain-lain kerajaan sezaman dengannya untuk memantapkan jati diri Melayu. Kemudian ia diwarisi oleh kerajaan Melaka di semenanjung dan beberapa kerajaan di pulau Jawa.

Maka Jawa juga dikenali sebagai Jawi. Sementara Jawi disamakan juga dengan Melayu, maka akhirnya Melayu-Jawa menjadi satu identiti yang membentuk kepulauan Melayu.

Kerajaan Majapahit menamakan pulau-pulau di luar Jawa termasuk semenanjung Tanah melayu sebagai Nusantara. Tetapi hakikatnya Jawa-Nusantara ini adalah kepulauan Melayu.

Terdapat beratus-ratus pulau di kepulauan Melayu, Maka dari segi geografi, pulau-pulau yang besar ialah Sumatera, Borneo, Jawa, Mindanao, Luzon, Sulawesi dan Papua.

Rangkaian pulau kecil pula ialah Nusa Tenggara, Timor, Maluku dan Visaya. Sementara semenanjung ialah Tanah Melayu dalam erti kata meliputi Pattani.

Justeru, Mindanao adalah salah sebuah pulau besar dalam Nusantara. Penduduknya adalah orang Melayu yang pada zaman ini tidak disebut sebagai Melayu.

Walaupun mereka tidak berbahasa Melayu tetapi bahasa mereka adalah sebahagian daripada rumpun Melayu. Mereka beragama Islam dan berbudaya rumpun Melayu. Tetapi mereka dipanggil Moro.

Comments No Comments »

Oleh Hussain Said


SALAH satu kendi yang ditemui Sungai Mentakab, Pahang berusia lebih 2,000 tahun.

PENEMUAN kendi berusia ribuan tahun tertanam di kawasan bukit berdekatan sungai di Mentakab, Pahang baru-baru ini menguatkan teori asal usul masyarakat Melayu zaman logam, sekitar 2,000 tahun lalu yang dikatakan dari Vietnam Utara dan Champa.

Kendi atau istilahnya dalam perkataan Sanskrit kundika adalah tempat menyimpan air yang biasanya diperbuat daripada logam seperti gangsa dan tembaga atau seramik.

Selain menjadi tempat menyimpan air, kendi yang mempunyai signifikan tersendiri berdasarkan reka bentuk dan lakarannya yang unik turut digunakan bagi menyimpan wangi-wangian, mereneh ubat, upacara keagamaan dan perkahwinan.

Lazimnya, kendi yang diperbuat daripada logam digunakan golongan bangsawan yang dikenali sebagai ‘Kendi Diraja’ untuk dijadikan tempat mereka meludah dan sebagai tepak sirih yang mesti ada berdekatan.

Dalam konteks zaman moden selepas kedatangan Islam, kendi dijadikan tempat menyimpan air suci iaitu air zam-zam dan ketika ini kendi yang diperbuat daripada logam sukar diperoleh berbanding jenis seramik.

Pembuat kendi selalunya menjadikan haiwan mengkarung, cicak, buaya sebagai identiti ukiran hiasan kendi yang dihasilkan selain imej burung, kerbau, muka manusia, rebung dan buluh.

Keistimewaan dan keunikan sesebuah kendi itu selalu berdasarkan ukiran serta material yang digunakan dan kedua-dua faktor itu juga melambangkan kemewahan kepada pemiliknya.

Penemuan dua lagi artifak sama di Port Dickson dan Terengganu, juga berdekatan kawasan sungai selepas itu mengukuhkan lagi teori kewujudan peradaban Kerajaan Melayu Maritim sezaman dengan Kerajaan Langkasuka, Champa dan Funan.

Pengkaji sejarah tamadun alam Melayu, Wan Ahmad Arshad, yang menemui dan memiliki ketiga-tiga artifak itu berkata, zaman logam mula berpengaruh di Nusantara Melayu berdasarkan teori penghijrahan dari Vietnam Utara dan Champa.

Kebanyakan institusi peradaban purba mempunyai akar umbi ‘riverine maritime’ yang kukuh serta strategik dan peradaban awal ini dipercayai berevolusi daripada masyarakat pra sejarah yang hidup secara nomad atau masyarakat pertanian yang terpimpin.

“Berdasarkan sumber bertulis China, seawal milenium pertama sebelum masihi dan selewat-lewatnya kurun ke-2 masihi sudah muncul kerajaan awal di alam Melayu seperti Dong Son, Vietnam Utara; Fu-Nan, Lembah Sungai Mekong; Champa, Vietnam Tengah; dan Langkasuka, Selatan Thailand-Kedah,” katanya.

“Antara alasan perpindahan atau penghijrahan itu termasuk mencari tempat baru bagi putera raja atau mencari negeri baru untuk dibuka serta diterokai selepas kalah dalam peperangan.

“Komuniti yang berpindah ini umumnya dipimpin seorang raja dan disertai oleh kerabat, menteri, hulu balang, bala tentera dan rakyat. Gambaran ini terdapat dalam sejarah Melayu mengenai pembukaan negeri Melaka itu sendiri,” katanya.

Sehubungan itu, katanya, beliau tidak menolak penemuan tiga artifak kendi itu menjadi bukti arkeologi yang kukuh mengenai kewujudan sebuah peradaban Melayu awal setidak-tidaknya pada kurun pertama masihi.

“Berdasarkan reka bentuk kendi yang ditemui di Mentakab yang unik, seperti seekor burung mahawangsa bersayap, berparuh dan berkaki empat, bahagian pemegangnya mempunyai imej haiwan mengkarung dan material gangsa yang digunakan untuk membuatnya, ia jelas menunjukkan ciri-ciri artifak purba zaman logam atau budaya Dong Son.

“Manakala reka bentuk burung mahawangsa berkaki dua dengan tandu di atas badannya yang ditemui di Pasir Panjang, Port Dickson banyak persamaan dengan artifak yang ditemui di Mentakab.

“Jadi, saya tidak menolak kemungkinan kedua-dua artifak itu adalah berpasangan sekali gus mengukuhkan lagi teori kewujudan peradaban Melayu zaman logam yang menjadikan kawasan pesisiran perairan sebagai tapak pentadbiran kerajaan,” katanya.

Wan Ahmad yang juga pemilik Galeri Pusaka Moyang (GPM) di Senawang, Negeri Sembilan berkata reka bentuk ketiga-tiga artifak itu juga tidak melambangkan reka bentuk lazim artifak di zaman Kesultanan Melaka yang banyak dipengaruhi reka bentuk Arab, China, Indo-China dan Eropah.

“Ini membawa kepada andaian artifak ini berasal dari zaman logam, yang berlaku sekitar milenium pertama sebelum masihi. Zaman logam mula berpengaruh di nusantara Melayu berdasarkan teori penghijrahan dari Vietnam Utara dan Champa di mana lokasi asal artifak zaman logam banyak ditemui,” katanya.

Beliau juga tidak menolak kemungkinan artifak yang ditemui di Mentakab itu mempunyai kaitan dengan dakwaan penemuan kota purba - Kota Gelanggi, di Johor pada 2003.

Comments No Comments »

The Background of The Great Cannons

Phraya Tani (Thai พญาตานี) or Seri Patani (Malay) is a historical siege cannon from Pattani in southern Thailand. It is the largest cannon ever cast in Thailand (Nusantara actually), measuring 9 feet and made of brass. It is now on display in front of the Ministry of Defence, opposite the Grand Palace in Bangkok. The cannon is still the symbol of the Pattani Province.

The cannon was cast in the early 17th century by a craftsman of Chinese descent named Tok Kayan (To’ Kian). The ruler of Pattani at that time, Raja Biru, ordered the construction of firearms in response to rumors of a forthcoming attack from Siam. Three cannons were cast, two large ones named Sri Patani and Sri Negara, and a smaller named Mahalela.

After the fall of Ayutthaya in 1767, Pattani tried to liberate itself from the tributary status to Siam. However in 1785 the army of Siam under leadership of the vice-king Boworn Maha Surasinghanat defeated Pattani. The two large cannons were taken as booty, however Sri Negara fell into the sea while being loaded to the ship.

Who is The Maker?

Terdapat 3 sumber dari 3 jarak masa yang berlainan. Mengikut kenyataan-kenyataan dan cerita tradisi sekitar Kerisek, Tanjung Lulok serta Tanjung Dato’, di mana nama sebenar masjid tersebut ialah Masjid Pintu Gerbang, yang dibina oleh ahli binaan berbangsa Cina. Nama lelaki Cina pembina itu ialah Lim Toh Kian atau Lim Tau Kin. Orang-orang Pattani menyebutnya dengan To’ Kian sahaja.

Mulanya beliau hanya bisnes di negeri Pattani. Tetapi apabila beliau melihat keindahan agama Islam yang dipimpin oleh raja-raja Melayu Pattani, dan rakyatnya yang hidup tenang serta damai, maka beliau memilih untuk memeluk agama Islam, serta terus membuat kesimpulan untuk tinggal tetap di sana. Menurut versi tersebut, hal ini berlaku sekitar zaman Raja Biru (1616-1624) masehi atau beberapa tahun selepasnya.

Walaupun beliau berbangsa Cina, beliau tetap ikut berbakti kepada agama dan negara tempat beliau berhijrah. Beliau ditugaskan untuk mengepalai membuat meriam-meriam kerajaan (Sila lihat buku ‘Sejarah Kerajaan Melayu Patani’ oleh Ibrahim Shukri). Meriam-meriam ini telah berjaya menyekat serangan pertama Kerajaan Siam ke atas Negeri Pattani pada tahun 1603.

Terdapat 3 laras meriam telah disiapkan. 2 laras meriam besar bernama ‘Seri Negara’ dan ‘Seri Patani’ berukuran 3 depa, 1 hasta dan 2 inci panjang. Satu lagi bernama ‘Mahalela’ berukuran kecil 5 hasta dan 1 jengkal sahaja. Tetapi malangnya pada tahun 1785, Patani kalah dalam peperangan dengan kerajaan Siam, meriam-meriam itu dirampas dan di bawa ke Bangkok. Satu darinya jatuh di Kuala Patani sewaktu nak diangkat naik ke kapal, satu lagi hilang entah ke mana. Dan yang bernama ‘Seri Patani’ itu dipamerkan di hadapan pejabat Kementerian Pertahanan Thai di Bangkok hingga sekarang.”

Tempat membuat dan menempa kerja-kerja menuang meriam-meriam itu kini disebut Kampung Tuang Bedil. Kesan tapak masih boleh dilihat. Tanah sekitarnya menjadi hitam, oleh sisa-sisa tahi besi dan tembaga yang terkumpul mendak atau mendap di situ. Tidak banyak rumput tumbuh.

The Service of The Great Cannons in Combat

Setelah hampir angkatan perang Siam itu akan sampai di Patani sekalian rakyat jelata Patani telah dikerah oleh Sultan Muhamad berkumpul di luar kota Istana dan dibahagikan kepada dua pasukan. Pasukan yang pertama diperintah berkawal dalam kubu-kubu di tepi pantai untuk mempertahankan pendaratan orang-orang Siam-Thai dari kapal perangnya. Pasukan kedua berkawal di hadapan Kota Istana dan segala alat senjata termasuk meriam dan pelurunya telah dibahagi sama rata. Meriam besar Seri Negara dan Seri Patani yang telah pernah mengalahkan orang-orang Siam-Thai dahulu telah dibawa semula diletak diluar kota hanya menunggu perintah akan melepaskan pelurunya yang handal dan kedua-dua pasukan pertahanan itu hanya menanti saat sahaja akan menghentam serangan orang-orang Siam-Thai.

Tiada berapa hari kemudian angkatan perang Siam-Thai yang dikepalai oleh Phraya Kalahum sampailah di Kuala Patani dan berlabuh disitu sementera menunggu saat yang baik akan melancarkan serangannya di dalam saat penting itu. Tiba-tiba dalam golongan orang-orang besar Sultan Muhamad adalah seorang Siam-Thai bernama “Nai Chan Tung” iaitu berasal dari Siam Ligor telah datang menduduki dalam Patani dengan beberapa orang rakannya ia telah banyak berkhidmat kepada kerajaan Patani sehingga Sultan Muhamad menaruh kerpecayaan penuh kepadanya dan telah dilantik dia menjadai seorang pembesar raja.

Sewaktu angkatan perang Siam-Thai berlabuh di Kuala Patani itu, timbullah perasaan jahatnya kepada kerajaan Patani dan akan berbuat bakti kepada bangsa dan kerajaannya. Lalu dia mengatur rancangan jahatnya kemudian dengan terburu-buru dia masuk mengadap baginda Sultan Muhamad menyatakan bahawa dia sanggup melawan serangan orang-orang Siam-Thai. Tetapi hendaklah dilantiknya menjadi ketua dalam pasukan rakyat Melayu yang bertahanan dalam kubu di tepi pantai itu serta meminta kepada sultan mengurnia kepada sebuah perahu yang besar lima hasta cukup dengan senjata-senjata dan meriam. Dengan kerana kepercayaan itu Sultan Muhamad telah meluluskan permintaannya. Setelah itu keluarlah Nai Chan Tung dengan perahunya. Pura-pura menuju kepada pertahanan di tepi pantai itu, di sini mulalah dia menjalankan rancangan khianatnya kepada kerajaan Patani.

Manakala sampai di tengah malam waktu alam sedang gelap gelita yang akan dapat melindungi kepada seorang yang akan berbuat jahat. Di kala itu keluarlah Nai Chan Tung dengan perahunya menuju ke kapal perang orang-orang Siam-Thai dan meminta berjumpa dengan panglima Phraya Kalahum. Setelah dapat berjumpa terus dia membuka rahsia pertahanan orang-orang Melayu Patani dan memberi tahu tempat-tempat perkubuan mereka serta ditunjuk pula tempat-tempat menyimpan senjata perang kemudian dia terus melarikan diri ke Singgora.

Panglima Phraya Kalahum sangatlah sukacitanya bila dapat mengetahui rahsia pertahanan orang-orang Melayu itu. Dia yakin pada kali ini angkatan perangnya akan tetap menang serta terbayang-bayang pada matanya bahawa pada kali ini sudah tentu takhta kerajaan Patani akan berguling jatuh ditendang oleh angkatan perangnya.

Setelah sampai saat yang baik panglima itu mulalah memerintah pasukan meriamnya membedil ke atas kubu-kubu pertahanan orang-orang Melayu di pantai itu. Dengan serentak dia mendaratkan tenteranya ke pantai dengan berlindung di bawah peluru-peluru yang ditembakoleh pasukan meriam, tetapi malangnya tiap-tiap kali peluru yang dibedil oleh Siam itu telah terjatuh di dalam kubu-kubu orang-orang Melayu. Sehingga beberapa kali tembak sahaja banyaklah orang-orang Melayu itu terbunuh dalam hal itu pun orang-orang Melayu tetap bertegas hati membedil balas dengan hebatnya. Serangan dan bedilan orang-orang Siam-Thai itu semakin lama semakin kencang sehingga angkatan perang orang-orang Siam-Thai itu dapat naik ke pantai serta mengumpul semua kekuatannya menyerbu ke kubu orang-orang Melayu. Dengan sekejap sahaja kedudukan orang-orang Melayu itu terkepung dan terputus perhubungannya dengan pasukan yang kedua yang bertahan di hadapan kota dalam negeri. Sekalipun mereka terkepung dan hadapannya telah terkecewa, orang-orang Melayu dalam kubu itu terus juga melawan dengan tidak berganjak setapak pun. Kesudahannya pertahanan orang-orang Melayu di pantai itu hancur lebur dan kubu-kubu serta meriam-meriam mereka telah ditawan oleh orang-orang Siam-Thai.

Setelah barisan pertahanan orang-orang Melayu di pantai itu jatuh, panglima Phraya Kalahum telah mengumpul sekali lagi kekuatan perangnya yang tinggal di situ terus melancarkan serangan ke dalam negeri. Serangan panglima itu telah mendapat tentangan yang hebat dair pertahanan orang-orang Melayu di hadapan Kota Istana dan Sultan Muhamad sendiri telah keluar mengatur pertahanan itu. Meriam Seri Negara dan Seri Patani pun mulalah melepaskan pelurunya yang handal itu menyekat kemaraaan orang-orang Siam-Thai dan peperangan berapat-rapat dengan menggunakan senjata-senjata pendek pun berlaku dengan hebat.

Comments 8 Comments »